PENILAIAN ASSET DALAM AKUNTANSI SYARI’AH | Gudang artikel

PENILAIAN ASSET DALAM AKUNTANSI SYARI’AH

Rabu, 18 Januari 2017

PENILAIAN ASSET DALAM AKUNTANSI SYARI’AH

KONSEP PENILAIAN ASET DALAM AKUNTANSI SYARI’AH
Perbedaan antara kerangka akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah, baik dari aspek: postulat, konsep dasar, prinsip, sampai pada teknik akuntansi. Hal ini tentunya akan merembes sampai kepada mekanisme penilaian aset menurut dua sistem akuntansi tersebut, yaitu: akuntansi konvensional dengan syari’ah. Oleh karena itu, bagian ini akan menguraikan
mengenai perbedaan penilaian aset menurut dua sistem akuntansi tersebut.
Ukuran besar-kecilnya suatu organisasi bisnis sangat tergantung pada nilai assetnya. Dengan kata sederhana, bahwa asset perusahaan memiliki nilai yang lebih tinggi pada akhir periode dibandingkan pada awal periode, tanpa adanya tambahan modal dari pemilik. Hal ini akan menghasilkan keuntungan sehingga dapat menambah nilai aset. Akan tetapi, penilaian aset saat ini menghadapi beberapa masalah, kecuali jika situasinya amat simple, seperti jika kita menilai aset tetap.

Penilaian asset dengan menggunakan discounted cash flow
Penilaian asset dengan menggunakan discounted cash flow adalah didasarkan pada konsep bahwa nilai asset adalah tergantung pada kemampuannya menghasilkan cash-flow masa depan (future cash-flow). Akan tetapi, ketika masa depan adalah panjang, maka di dalamnya mengandung ketidakpastian dan pertambahan risiko, hal ini adalah penting untuk mengestimasikan present value dari stream of cash flow masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendiskontoan future cash flows to the present. Pendiskontoan melibatkan tiga asumsi dasar, yaitu:

a. the amount of net cash flows expected to be generated in each of
the future years;
b. the number of years of the remaining life of the assets; and
c. the appropriate discount factor

Time value of money (Nilai Waktu Uang)
Teknik discounted cash flow adalah didasarkan pada konsep time value of money. Konsep ini menyatakan bahwa utilitas uang saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan utilitasnya untuk  uang yang sama pada waktu yang akan datang. Konsep ini juga yang sangat popular menjustifikasi bunga atas modal yang dipinjam.
Menurut konsep ini, jika nilai guna uang pinjaman bagi yang dipinjamkan kepada peminjam adalah sama dengan nilai uang pada masa yang akan datang, maka pemberi pinjaman akan menambahkan bunga, sehingga nilai uang pada masa yang akan datang adalah sama dengan nilai uang pada saat ini.
Sekarang ini secara konseptual merupakan suatu asumsi yang faulty. Hal ini adalah benar bahwa dalam beberapa kasus nilai guna uang saat ini dapat lebih besar daripada nilai gunanya pada masa yang akan datang.

Current Cash Equivalent (CCE)
Pertanyaan utama yang muncul pada sub bagian artikel ini adalah: metode penilaian aset apa yang paling cocok dalam kerangka Islam? Penulis berpendapat bahwa syari’ah Islam memberikan dukungan terhadap sistem penilaian yang baik untuk semua tujuan atau pihak, apakah pihak pemegang saham, pemerintah, investor maupun masyarakat umum. Konsep ini memang berbeda dalam hal pembagian laba kepada pemegang saham dan pendapatan pajak bagi pemerintah seperti halnya yang berlaku dalam sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis. Akan tetapi, penulis percaya bahwa akuntan dalam masyarakat Islam merupakan salah satu sosok yang baik. Karena dasar inilah maka perusahaan dalam masyarakat memiliki peran sosial yang baik juga.
Salah satu tujuan utama akuntansi dalam masyarakat Islam adalah membantu masing-masing individu menentukan kewajibannya atas zakat dan mengeluarkannya. Dengan demikian, akuntan akan menjadi seseorang yang baik secara individu maupun secara pemerintahan. Jadi, penulis berpendapat, hal ini merupakan hal yang sangat fair untuk menerima dasar yang sama dalam menilai aset dengan dasar perhitungan zakat.

Assumsi “Going Concern” dan Conservatism
Dua asumsi penting dalam akuntansi konvensional adalah: Going Concern dan Conservatism. Asumsi yang pertama berarti bahwa asset dinilai dengan asumsi bahwa perusahaan akan terus berlangsung pada periode yang tidak terbatas; oleh karena itu, the values taken are not the value which the assets or liabilities will fetch in the market on the balance sheet date. Asumsi demikian ini menurut Bhattacharya dikatakan, bahwa “this assumption makes the life of accountants easier, since otherwise, they will have to enquire into the market price of each asset on the balance sheet date” (Bhattacharya, 1992, p. 27).
Oleh karena itu, jika kita memilih atau mengadopsi metode Current Cash Equivalent untuk penilaian asset maka asumsi going concern tidak diperlukan lagi. Asumsi concervatism berarti bahwa if there is a possibility of any loss it must be provided for, whereas if there is a doubt about any income, it must not be include in the profit (Bhattacharya, 1992, p. 10). Kaidah ini adalah sah sepanjang digunakan untuk menjelaskan kondisi historical cost. Sekalilagi, jika kita mengadopsi metode Current Cash Equivalent untuk penilaian asset maka asumsi going concern tidak diperlukan lagi. Maka yang tepat adalah menggunakan nilai pasar, apakah kita akan mengarahkan pada kerugian atau untung.


0 komentar:

Posting Komentar