Makalah Pengambilan Keputusan

Friday, April 15, 2011
 I. Landasan Teori
  1. Pandangan umum tentang pengambilan keputusan
     Fred Luthans dalam bukunya Perilaku Organisasi menyebutkan bahwa pengambilan keputusan didefinisikan secara universal sebagai pemilihan alternatif. Pendapat yang senada diungkapkan oleh Chester Barnard dalam The Function of the Executive bahwa analisis komprehensif mengenai pengambilan keputusan disebutkan sebagai suatu “proses keputusan ... merupakan teknik untuk mempersempit pilihan”. Sementara dalam bahan ajar DR. Mohammad Abdul Mukhyi, SE., MM bahwa membuat keputusan adalah “The process of choosing a course of action for dealing with a problem or opportunity”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan erat kaitannya dengan pemilihan suatu alternatif untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah serta memperoleh kesempatan.
Herbert Simon, ahli teori keputusan dan organisasi mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan yaitu :
Ø  Aktivitas intelegensi yakni penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan pengambilan keputusan
Ø  Aktivitas desain yakni terjadi tindakan penemuan, pengembangan dan analisis masalah
Ø  Aktivitas memilih yakni memilih tindakan tertentu dari yang tersedia

  1. Fungsi dan tujuan pengambilan keputusan
Fungsi pengambilan keputusan yaitu :
Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut :
-          Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional
-          Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya menyangkut dengan hari depan/masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama
Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan atas dua yaitu :
-          Tujuan bersifat tunggal yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah artinya sekali diputuskan dan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain
-          Tujuan bersifat ganda yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kontradiktif

  1. Langkah dalam pengambilan keputusan
Mintzberg mengungkapkan bahwa langkah-langkah dalam pengambilan keputusan terdiri dari :
1.      Tahap identifikasi
      Tahap ini adalah tahap pengenalan masalah atau kesempatan muncul dan diagnosis dibuat. Sebab tingkat diagnosis tergantung dari kompleksitas masalah yang dihadapi
2.      Tahap pengembangan
      Tahap ini merupakan aktivitas pencarian prosedur atau solusi standar yang ada atau mendesain solusi yang baru. Proses desain ini merupakan proses pencarian dan percobaan di mana pembuat keputusan hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas
3.      Tahap seleksi
      Tahap ini pilihan solusi dibuat, dengan tiga cara pembentukan seleksi yakni dengan penilaian pembuat keputusan : berdasarkan pengalaman atau intuisi, bukan analisis logis, dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis, dan dengan tawar-menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan dan semua manuver politik yang ada. Kemudian keputusan diterima secara formal dan otorisasi dilakukan.
            Seperti yang terlihat dalam skema tahap pengambilan keputusan dalam organisasi menurut Mintzberg berikut :
  1. Dasar-dasar pendekatan pengambilan keputusan
     Pengambilan keputusan harus dilandasi oleh prosedur dan teknik serta didukung oleh informasi yang tepat (accurate), benar(reliable) dan tepat waktu (timeliness). Ada beberapa landasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang sangat bergantung dari permasalahan itu sendiri.  Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
Ø  Intuisi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaam memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisn ini mengandung beberapa keuntungan dan kelemahan.
Keuntungan :
-          waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek
-          untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan ini akan memberikan kepuasan pada umumnya
-          kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu dimanfaatkan dengan baik.
Kelemahan :
-          Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik
-          Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya
-          Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan.
Ø  Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
Ø  Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan fakt dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
Ø  Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannyaatau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan :
-          Kebanyakan penerimaannya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa
-          Keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama
-          Memiliki daya autentisitas yang tinggi
Kelemahan :
-          dapat menimbulkan sifat rutinitas
-          mengasosiasikan dengan praktik diktatorial
-          sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan
Ø  Logika
Pengambilan keputusan yang berdasar logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
-          kejelasan masalah
-          orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai
-          pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya
-          preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria
-          hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu :
Ø  Internal Organisasi seperti ketersediaan dana, SDM, kelengkapan peralatan, teknologi dan sebagainya
Ø  Eksternal Organisasi seperti keadaan sosial politik, ekonomi, hukum dan sebagainya
Ø  Ketersediaan informasi yang diperlukan
Ø  Kepribadian dan kecapakan pengambil keputusan

  1. Model Perilaku Pengambilan Keputusan
      Berikut empat rangkaian model pengambilan keputusan :
1.      Model rasionalitas ekonomi
Model ini berasal dari ekonomi klasik dimana pembuat keputusan sepenuhnya rasional dalam segala hal. Berkaitan dengan aktivitas pengambilan keputusan, terdapat asumsi :
-          keputusan akan sepenuhnya rasional dalam hal rencana dan tujuan
-          terdapat sistem pilihan yang lengkap dan konsisten yang memungkinkan pemilihan alternatif
-          kesadaran penuh terhadap semua kemungkinan alternatif
-          tidak ada batasan pada kompleksitas komputasi yang dapat ditampilkan untuk menentukan alternatif terbaik
-          probabilitas kalkulasi tidak menakutkan ataupun misterius
Pada model rasionalitas ekonomi terdapat teknik rasional moderen yaitu pendekatan scientific management seperti ABC, EVA dan MVA. Pada teknik ABC (activity-based cosying) menentukan biaya yang berhubungan dengan aktivitas seperti memproses pesanan penjualan, mempercepat pesanan pemasok, dan atau pelanggan, memecahkan masalah kualitas pemasok dan atau masalah pengantaran, dan memperlengkapi mesin. Untuk teknik EVA (economic value added) biaya semua kapital ditentukan misalnya biaya kapital ekuitas (uang yang disediakan pemegang saham), EVA berguna juga sebagai ukuran untuk mengambil keputusan mengenai masalah akuisisi dan pajak sampai masalah kompensasi. Sementara MVA (market value added) dapat menunjukkan keuntungan yang diperoleh perusahaan atau seberapa besar kapital yang terbuang kaitannya dengan nilai pasar saham.
2.      Model rasionalitas terbatas dari Simon (Satisficing)
Model ini menyatakan bahwa perilaku pengambilan keputusan dapat dideskripsikan sebagai rasional dan maksimal tetapi terbatas dimana pembuat keputusan berakhir dengan kepuasan minimal karena tidak memiliki kemampuan untuk memaksimalkan. Hal tersebut dikarenakan informasi yang kurang sempurna, terdapat batasan waktu dan biaya, tawaran alternatif kurang disukai dan efek kekuatan lingkungan tidak dapat diabaikan.
3.      Model penilaian heuristik dan bias
Model ini diprakarsai oleh ahli teori kognitif yaitu Kahneman dan Tversky yang menyatakan bahwa pembuat keputusan mengandalkan heuristik yakni penyederhanaa strategi atau metode berdasarkan pengalaman.
Meskipun heuristik kognitif menyederhanakan dan membantu pembuat keputusan, dalam situasi tertentu penggunaannya dapat menyebabkan eror dan hasil bias secara sistematis. Ada tiga bias utama yang teridentifikasi membantu menjelaskan bagaimana penilaian tersebut menyimpang dari proses rasional.
Heuristik bias tersebut ada tiga yaitu :
Ø  Heuristik availabilitas
Ø  Heuristik representatif
Ø  Heuristik kerangka referensi dan keputusan
4.      Model sosial
Sigmund freud memandang manusia sebagai sekumpulan perasaan, emosi dan naluri dengan perilaku yang dipandu oleh keinginan yang tidak disadari. Model ini adalah sisi yang berlawanan dari rasionalitas ekonomi yakni melihat dari sudut pandang psikologi. Hal ini didukung pandangan bahwa pengaruh psikologi mempunyai dampak yang signifikan pada perilaku pengambilan keputusan.

  1. Gaya pengambilan keputusan
Selain model rasionalitas, terdapat pendekatan lain untuk perilaku pengambilan keputusan berfokus pada gaya yang digunakan manajer dalam memilih alternatif. Ada empat gaya pengambilan keputusan yaitu :
Ø  Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah terhadap ambiguitas dan berorientasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat.
Ø  Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif daripada pembuat keputusan direktif.
Ø  Gaya Konseptual
Pembuat gaya konseptual mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.
Ø  Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Gaya ini cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat yakni cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat serta menyukai informasi verbal daripada tulisan.

  1. Teknik pengambilan keputusan partisipatif
Teknik partisipatif ada dua yaitu teknik partisipatif individu dan kelompok. Untuk individu dimana karyawan mempengaruhi pengambilan keputusan manajer. Sementara untuk kelompok menggunakan teknik konsultasi dan demokrasi. Dalam partisipasi konsultasi, manajer meminta dan menerima keterlibatan karyawan, tetapi manajer mempertahankan hak untuk membuat keputusan. Dalam bentuk demokrasi terjadi partisipasi total an kelompok bukan per individu yaitu dengan suara terbanyak.

II. Studi Kasus
            Kasus :
            Harry Smart ?, benarkah ?

Harry Smart, eksekutif muda yang ambisius dan cerdas, lahir dan besar di boston dan lulusan universitas kecil di New England. Dia bertemu calon istrinya, Barbra, yang juga berasal dari Boston di universitas. Mereka menikah sehari setelah lulus dengan predikat cum laude. Selanjutnya, Harry memperoleh gelar MBA di Harvard, dan Barbra mendapat gelar hukum dari Harvard. Harry sudah bekerja selama tujuh tahun di Brand Corporation yang ada di Boston dan Barbra bekerja di perusahaan hukum di Boston.
Sebagai bagian dari program ekspansi, dewan direksi Brand memutuskan untuk membangun cabang baru. Presiden secara pribadi memilih Harry untuk menjadi manager kantor baru dan memberitahukan keberhasilannya dalam pekerjaan dan menjaminnya menjadi wakil presiden di perusahaan tersebut. Harry diangkat menjadi pemimpin komisi ad hoc yang memiliki hak pengambilan keputusan untuk menentukan kantor baru. Anggota komisinya adalah pakar dibidang  transportasi, pemasaran, distribusi, ekonomi tenaga kerja dan humas. Dia memberi waktu sebulan untuk menentukan tiga pilihan lokasi untuk kantor baru tersebut.
Sebulan telah lewat dan komisi terkumpul kembali. Setelah menimbang semua variabel, para pakar merekomendasikan kota berikut ini dalam urutan preferensi : Kansas City, Los Angeles, dan New York. Harry melihat bahwa anggota komisi menghabiskan banyak waktu dan usaha dalam laporan dan rekomendasi mereka. Juru bicara kelompok menekankan bahwa Kansas City adalah lokasi terbaik untuk kantor baru. Harry berterima kasih atas pekerjaan baik mereka dan memberitahukan bahwa dia akan mempelajari lebih mendalam laporan tersebut sebelum membuat keputusan akhir.
Setelah makan malam, dia bertanya pada istrinya, “Sayang, apakah kamu mau pindah ke Kansas City ?” Barbra segera menjawab, “ Tentu saja tidak ! “  Ia melanjutkan, “ Aku hidup di Timur seumur hidupku, dan aku tidak akan pindah ke daerah pedalaman. Aku dengar daya tarik terbesar di Kansas City adalah peternakan. Kehidupan itu tidak cocok untukku. “ Harry memprotes dengan pelan, “ Tetapi sayang, komisi merekomendasikan Kansas City sebagai lokasi terbaik untuk kantorku. Pilihan kedua adalah Los Angeles dan yang ketiga adalah New York. Apa yang harus kulakukan ? “ Istrinya berfikir sejenak dan menjawab, “ Baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk menetap di New York, tetapi jika kamu tetap memaksa Kansas City, maka kamu harus pergi sendiri ! ”
Hari berikutnya, Harry memanggil komisinya dan berkata, “ Anda semua patut dihargai atas laporan yang hebat ini. Akan tetapi, setelah mempelajari dengan rinci, saya yakin New York lebih cocok untuk kantor baru kita daripada Kansas City atau Los Angeles. Oleh karena itu, keputusannya adalah membangun kantor baru di New York. Terimakasih sekali lagi untuk semua pekerjaan yang hebat ini “

1.      Apakah Harry membuat keputusan yang rasional ?
2.      Model perilaku pengambilan keputusan apa yang didukung kasus ini ?
3.      Teknik keputusan apa yang dapat digunakan oleh komisi untuk memilih lokasi kantor baru ?

Uraian Jawaban :

1.      Harry tidak membuat keputusan rasional disebabkan oleh :
-                   Merujuk dari kronologis pengambilan keputusan dimana terjadi perubahan keputusan yang sebelumnya dilandasi oleh rasionalitas menjadi keputusan yang diintervensi kepentingan pribadi (istri)
-                   Pengambilan keputusan tidak dilandasi oleh pemikiran yang matang akan tetapi disebabkan oleh tekanan psikologi dan waktu pengambilan keputusan sangat pendek dimana tidak sesuai dengan beban tugas dan resikonya
-                   Adanya pengabaian proses rasionalitas dari anggota tim yang telah bekerja keras dalam mengumpulkan data aktual (informasi) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan

2.      Model perilaku pengambilan keputusan yang mendukung kasus ini adalah
Kombinasi antara model rasionalitas terbatas dengan model sosial, karena opsi yang dipilih masih jadi bagian dari rekomendasi tim yakni berada pada tingkatan “cukup”, namun dalam proses memutuskannya berasal dari tekanan psikologis (sosial).   

3.      Teknik keputusan yang dapat digunakan oleh komisi untuk memilih lokasi kantor baru adalah teknik rasional moderen yakni ABC atau activity-based costing karena teknik ini berhubungan dengan distribusi yakni dapat memperhitungkan biaya semua kegiatan/aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan memproses pesanan penjualan, mempercepat pesanan pemasok/pelanggan serta memecahkan masalah kualitas pemasok/penganrtaran (delivery), sehingga dalam pemilihan lokasi kantor teknik lebih tepat digunakan karena perusahaan Brand Corporation bergerak dibidang penjualan produk yang membutuhkan jalur distribusi yang tepat, wilayah pemasaran yang mudah dijangkau serta ditunjang oleh transportasi untuk mengantarkan/mendistribusikan produk.


DAFTAR PUSTAKA

Luthans F,   2006  Perilaku Organisasi Edisi 10, Penerbit Andi, Yogyakarta

Setiadi N J,   2008  Business Economics and Managerial Decision Making,
       Kencana, Jakarta













0 comments:

Post a Comment